SPESIFIKASI LAYANAN DAN MODEL BISNIS
Apa
itu Model Bisnis?
Model bisnis adalah
sebuah konsep dasar tentang bagaimana bisnis akan dijalankan, baik secara
internal maupun eksternal.
Secara internal, model
bisnis menentukan bagaimana organisasi bisnis akan dibangun agar usaha yang dijalankan
mampu terus tumbuh dengan baik. Sedangkan secara eksternal, model
bisnis membantu menentukan value apa yang ditawarkan kepada konsumen dan
bagaimana cara memperoleh laba dari usaha yang dijalankan.
Model bisnis bukan
hanya sebuah rencana bisnis yang mencatat visi-misi saja. Lebih jauh, model
bisnis membantu Anda menciptakan cara mendapatkan profit.
Dengan menentukan
model yang tepat, bisnis yang Anda bangun akan memiliki tujuan yang jelas. Anda
jadi tahu siapa saja konsumen yang menjadi target pasar Anda dan
bagaimana business process harus dilakukan.
Nah, untuk dapat
membangun sebuah model bisnis yang baik, Anda perlu menjawab tiga pertanyaan
utama, yaitu:
- Jenis produk apa yang akan dihasilkan? Apakah
ketersediaan bahan baku dan tenaga kerja dapat terpenuhi dengan baik?
- Bagaimana strategi promosi dan distribusinya
agar produk dapat menjangkau konsumen dengan baik?
- Apa strategi harga yang ingin digunakan? Cara
pembayaran apa yang ingin digunakan?
Semua pertanyaan
tersebut sering dijawab menggunakan kanvas model bisnis yang terdiri dari 9
komponen model bisnis yaitu:
1.
Value proposition. Manfaat yang akan diterima konsumen dari bisnis
Anda.
2.
Customer
segmentation. Target pasar dari produk yang akan
ditawarkan.
3.
Channel. Media yang digunakan untuk menjangkau
konsumen.
4.
Customer
relationship. Cara menjaga hubungan baik dengan
konsumen.
5.
Revenue streams. Sumber penghasilan usaha.
6.
Key resources. Sumber daya yang diperlukan agar bisnis dapat
berjalan.
7.
Key activities. Semua kegiatan bisnis yang dilakukan.
8.
Partnership. Rekan kerja yang membantu bisnis berjalan.
9.
Cost structure. Pengeluaran dari aktivitas bisnis yang
dilakukan.
Nah, setelah
belajar tentang pengertiannya, mari pelajari lebih lanjut jenis model
bisnis.
Ada banyak jenis
model yang bisa diterapkan sesuai dengan bisnis Anda. Untuk memudahkan, kami
akan membaginya menjadi beberapa kelompok utama.
Model
Bisnis Berdasarkan Produksinya
Ini dia beberapa
jenis model bisnis berdasarkan kegiatan produksinya:
1.
Manufaktur
Dalam model bisnis
manufaktur, Anda membuat sebuah produk dan menjualnya untuk mendapatkan laba.
Biasanya produksi barang dilakukan dengan menggunakan mesin
produksi.
Ketika menjalankan
bisnis manufaktur, Anda bisa menjual barang secara langsung ke konsumen atau
menggunakan perantara pihak ketiga.
Contoh perusahaan
yang melakukan penjualan langsung adalah Nike dan Apple.
Kedua perusahaan ini memiliki pabrik untuk menciptakan produk dan toko untuk
menjual produknya sendiri, contohnya Apple Retail Store.
Di sisi lain, Intel,
produsen prosesor komputer lebih sering menjual produk secara tidak langsung ke
konsumen. Pada umumnya, konsumen tidak membeli produk Intel secara langsung,
tapi melalui sebuah produk laptop yang terdapat prosesor Intel di
dalamnya.
Tantangan yang
mungkin Anda hadapi ini adalah kemampuan untuk terus mendapatkan resources
(bahan baku) agar produksi berjalan lancar.
2.
Distributor
Sesuai namanya,
distributor adalah model bisnis yang aktivitas utamanya adalah mendistribusikan
produk. Artinya, mereka tidak memproduksi sendiri barang yang dijual.
Kunci utama bisnis
ini adalah kemampuan menjalin kerja sama dengan perusahaan manufaktur agar bisa
mendistribusikan produk. Beberapa distributor ada yang bekerja sama dengan
banyak supplier sekaligus. Ada juga yang khusus menjadi distributor resmi suatu
produk.
Contoh perusahaan
distributor di Indonesia adalah PT TAM yang bergerak pada
distribusi ponsel. Perusahaan distributor ini merupakan mitra dari berbagai
perusahaan seperti Samsung, Xiaomi, dan Blackberry yang
pernah booming di Indonesia.
Jadi, Anda ini
tidak menjual produk langsung ke konsumen. Sebagai distributor, Anda menjual
produk melalui satuan bisnis yang lebih kecil yang disebut retailer.
3.
Retailer
Retailer adalah
model bisnis yang membeli produk dari distributor dan menjualnya kembali ke
konsumen. Bisa dikatakan retailer adalah penghubung antara produsen
(manufaktur) dan konsumen.
Model bisnis retail
bisa diterapkan pada bisnis dengan skala kecil-menengah maupun besar. Mulai
dari toko yang Anda jalankan dari rumah hingga perusahaan ritel besar
seperti Indomaret, Alfamart, Trikomsel Oke,
dan lainnya.
Retailer bisa
menyasar pada segmentasi konsumen yang umum atau khusus. Contohnya, Trikomsel
Oke fokus ke konsumen yang memiliki kebutuhan gadget untuk komunikasi.
Jika Anda ingin
menjadi retailer, pastikan ketersediaan resource seperti gudang terjamin dengan
baik. Jika tidak demikian, aktivitas bisnis dapat terganggu.
4.
Franchise
Model bisnis ini
lebih dikenal dengan istilah waralaba. Konsepnya ketika seseorang ingin memulai
bisnis, tidak perlu membuat bisnis sendiri dari awal. Namun, cukup menggunakan
model yang sudah ada dari brand tertentu, dan membayar uang kompensasi
kerjasama yang dilakukan.
Pihak yang memiliki
bisnis dengan brand disebut franchisor dan yang menggunakan brand bisnis
disebut franchisee.
Salah satu contoh
bisnis franchise adalah Mc Donalds.
Bagi pebisnis
pemula, menggunakan franchise memang lebih mudah karena tinggal menjalankan
usaha saja. Semua komponen usaha sudah ditentukan dengan jelas oleh pihak
franchisor. Namun, Anda harus cermat dalam memilih franchisor yang
menguntungkan.
Di sisi lain, Anda
juga bisa menciptakan sebuah bisnis franchise Anda sendiri.
Salah satu
contohnya adalah bisnis farmasi Apotek K24. Anda bisa memulainya
dengan membuka bisnis yang mampu menarik konsumen. Dan setelah berkembang, Anda
bisa menawarkan kerjasama franchise kepada pihak lain.
5.
White Label
Model bisnis ini
hampir mirip dengan franchise. Bedanya, pada white labeling, Anda bebas untuk
menggunakan brand Anda sendiri.
Biasanya,
perusahaan yang menawarkan bisnis white labeling akan menjual produknya khusus
ke reseller, bukan konsumen akhir.
Kenapa ada pebisnis
yang melakukan white labeling?
Alasannya, pebisnis
tersebut bisa lebih fokus pada produksi barang dan jasa tanpa memikirkan metode
pemasaran yang harus dilakukan. Di sisi lain, konsumen white labeling bisa
menjual produk kualitas terbaik tanpa repot melakukan produksi sendiri.
Bisnis ini bisa
diterapkan pada berbagai jenis produk seperti fashion, kerajinan tangan dan
lainnya. Contoh perusahaan besar yang menggunakan White Label adalah Foxconn yang
membuat produk elektronik ke berbagai distributor seperti Apple.
Model
Bisnis Berdasarkan Fisiknya
Dilihat dari bentuk
fisiknya, inilah beberapa model bisnis yang bisa Anda temui:
1.
Brick and Mortar
Inilah model bisnis
tradisional yang menjual barang dan jasa melalui toko fisik. Artinya, transaksi
dilakukan ke konsumen akhir secara tatap muka langsung. Brick and Mortar ini
bisa digunakan oleh produsen, distributor dan lainnya.
Contoh dari bisnis
ini adalah toko kelontong, SPBU, dan lainnya.
Model bisnis ini
sudah dikenal oleh masyarakat sehingga relatif banyak digunakan. Pada
praktiknya, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan utama dalam menggunakan
model bisnis ini yaitu: kualitas produk, layanan, lokasi
usaha, dan harga.
Tantangan dari
bisnis ini adalah munculnya bisnis online yang bisa dilakukan tanpa batasan
waktu operasional dan lokasi usaha.
2.
eCommerce
Sesuai namanya,
ecommerce (electronic commerce) adalah sebuah bisnis di mana penjual dan
pembeli melakukan transaksi secara online. Dengan kata lain ecommerce adalah
model bisnis toko online.
Model bisnis ini adalah
perkembangan dari brick and mortar yang muncul seiring kemudahan akses
internet. Jika brick and mortar memiliki wujud fisik baik toko maupun gudang,
ecommerce menggunakan pendekatan digital.
Untuk toko
misalnya, Anda bisa menggunakan website toko online yang memajang semua produk
yang dijual. Bahkan, jika produk yang Anda jual adalah produk digital seperti
ebook, Anda tak lagi membutuhkan gudang sebagai tempat penyimpanan.
Saat ini banyak
sekali jenis bisnis yang menggunakan pendekatan ecommerce, seperti Rabbani di
bidang fashion, dan Gramedia Online yang menjual buku
digital. Bisa dikatakan ecommerce merupakan salah satu jenis bisnis
paling menjanjikan saat ini.
3.
Bricks and Clicks
Model bisnis ini
sebenarnya gabungan dari mortar and bricks dan ecommerce. Bricks and clicks
adalah sebuah usaha yang memiliki toko offline dan toko online secara
bersamaan.
Salah satu yang
mendasari lahirnya model bisnis ini adalah keinginan untuk menyediakan
kemudahan belanja online bagi konsumen sekaligus tetap mempertahankan konsep
belanja offline yang sudah biasa dilakukan.
Beberapa bisnis
yang menerapkan model bisnis ini adalah bisnis fashion, penjualan obat, dan
lainnya.
4.
Marketplace
Marketplace adalah
sebuah model bisnis yang memfasilitasi bertemunya penjual dan pembeli secara
online dengan menggunakan website atau platform khusus milik pihak
ketiga.
Beberapa contoh
marketplace di Indonesia adalah Tokopedia dan Bukalapak.
Marketplace umumnya
memiliki banyak penjual yang tergabung dalam satu platform dan menawarkan
produk yang hampir sama. Secara umum, marketplace akan mendapatkan keuntungan
dari komisi untuk setiap transaksi yang dilakukan.
Di sisi lain, jika
Anda ingin berjualan menggunakan marketplace, cukup memilih platform yang ingin
diikuti dan melakukan registrasi. Meskipun banyak digemari pebisnis pemula, ada
beberapa kelemahan dalam platform ini yaitu persaingan yang ketat dan margin
laba yang kecil.
5.
Dropship
Salah satu model
bisnis yang juga dilakukan online adalah dropship. Ketika menggunakan dropship,
Anda bukan hanya tidak memerlukan toko fisik, tapi juga bisa menjalankannya
tanpa memiliki gudang.

Sebagai
dropshipper, Anda menjual produk pihak lain kepada konsumen melalui toko online
Anda. Berbeda dengan reseller, supplier-lah yang mengirimkan barang langsung ke
konsumen. Artinya, tidak ada aktivitas menyimpan barang yang perlu Anda
lakukan.
Pendapatan seorang
dropshipper berasal dari selisih keuntungan dari yang diberikan konsumen ke
yang dibayarkan ke supplier. Dropshipping adalah model bisnis yang bisa
dilakukan tanpa modal dengan banyak pilihan produk. Namun, margin keuntungannya
relatif kecil.
6.
Affiliasi
Model bisnis afiliasi hampir mirip dropship, yaitu
menjual produk pihak lain. Bedanya, afiliasi lebih berperan dalam upaya promosi
agar konsumen mau membeli produk tertentu. Dan, pendapatan affiliate berasal
dari komisi penjualan produk.
Jika Anda
menjadi affiliate,
Anda perlu bergabung ke salah satu program afiliasi dulu. Salah satunya, Program
Afiliasi Indonesia dari Niagahoster.

Setelah bergabung,
Anda cukup mempromosikan produk menggunakan kode dan banner khusus. Langkah
promosinya bisa dilakukan melalui blog atau media sosial. Setiap kali ada
pembelian menggunakan kode yang Anda bagikan, Anda akan mendapatkan komisi.
Besaran komisi
tergantung program yang diikuti. Program Afiliasi Indonesia misalnya,
memberikan komisi 70% dari setiap penjualan hosting dan domain
yang berhasil!
Model
Bisnis Berdasarkan Sumber Revenue
Inilah beberapa
jenis model bisnis dengan pendekatan cara menghasilkan laba yang berbeda. Apa
saja?
1.
Freemium
Anda pasti sudah
bisa menebak bahwa freemium adalah sebuah bisnis yang menawarkan layanan gratis
sekaligus premium dalam satu produk.

Jenis model bisnis
ini banyak ditemui pada bisnis online. Salah satunya adalah layanan penyimpanan
berbasis cloud, DropBox. Pengguna bisa menggunakan DropBox Basic
dengan kuota penyimpanan 2GB yang gratis digunakan sampai kapanpun.
Jika ingin
mendapatkan storage lebih banyak dan fitur lebih lengkap, pengguna harus
melakukan upgrade paket premium mereka.
2.
Subscription
Model bisnis ini
mendapatkan penghasilan dari biaya berlangganan yang dibayarkan oleh konsumen,
baik bulanan maupun tahunan.
Hampir semua bisnis jasa bisa menggunakan model
bisnis ini, tapi yang paling populer adalah bisnis edukasi dan bisnis hiburan
yang diakses secara online. Contohnya, adalah Netflix.

Model bisnis ini
cukup menguntungkan baik bagi konsumen dan pebisnis. Konsumen akan lebih tertarik
untuk menggunakan layanan kapan saja dengan harga relatif terjangkau.
Sedangkan, pebisnis bisa mendapatkan keuntungan yang terukur berdasarkan
banyaknya konsumen yang dimiliki.
3.
Hidden Revenue
Salah satu bisnis
yang menggunakan model bisnis hidden revenue adalah YouTube dari Google.
Platform digital
ini bisa digunakan gratis oleh konsumen sampai kapanpun. Peran pengguna tidak
terlalu diperhitungkan bagi perusahaan dalam upaya mendapatkan laba.
Lalu, bagaimana
YouTube mendapatkan penghasilan?
Jawabannya, dari
iklan. Ketika Anda menggunakan YouTube, Anda akan disuguhi iklan berbagai
produk. Biaya pemasangan iklan inilah yang menjadi revenue streamnya.
Kenapa banyak
perusahaan mau memasang iklan di platform ini? Jumlah pengguna nya sangat
banyak dan tingkat penggunaannya sangat tinggi. Jadi, memasang iklan di YouTube
memberikan keuntungan berupa eksposur yang lebih baik bagi bisnis.
Model
Bisnis Berdasarkan Strategi Harga
Model bisnis
berdasarkan strategi harganya terdapat dua jenis yaitu:
1.
Razor Blade
Model bisnis razor
blade menggunakan strategi di mana produk utama berharga murah, bahkan gratis.
Namun, produk pendukung berharga lebih tinggi dan digunakan untuk mendapatkan
laba. Model bisnis ini sering disebut sebagai bait and hook alias umpan-kail.
Model bisnis ini
menggunakan strategi lock-in, yaitu produk utama dan produk
pendukung harus saling melengkapi satu sama lain. Artinya, konsumen hanya bisa
membeli produk pendukung dari produsen yang sama.

Jenis produk yang biasanya
menggunakan strategi ini adalah yang menerapkan sistem refill atau isi ulang.
Contohnya alat cukur (Gillette), printer (HP dan Canon),
hingga kartu operator seluler (Telkomsel, dll).
Semua produk utama
ini dijual dengan harga standar. Namun, pengguna diharuskan membeli produk
pendukung agar dapat terus menggunakannya, yaitu pisau cukur, tinta, atau isi
ulang pulsa.
2.
Reverse Razor Blade
Inilah model bisnis
yang berlawan dari strategi razorblade. Reversed razorblade memberi harga
produk utama yang cukup tinggi, tapi memberikan banyak keuntungan konsumen
dalam menggunakan produk pendukung.
Contoh perusahaan
yang menggunakan Reverse Razor Blade adalah Apple.

Berbagai produknya,
seperti Macbook Air, dihargai cukup mahal untuk sekelas laptop
dengan spesifikasi tertentu. Namun, pengguna bisa menggunakan produk pendukung
seperti aplikasi email, maps, organizer dan lainnya tanpa mengeluarkan biaya
lagi. Bahkan beberapa aplikasi dengan kualitas terbaik bisa ditambahkan dengan
gratis melalui App Store.
3.
Nickel and Dime
Model bisnis ini
menjual sebuah produk utama dengan harga terjangkau sekaligus menawarkan
berbagai fitur tambahan. Pada akhirnya, biaya yang dibayarkan konsumen jauh
lebih tinggi dari harga standar, sesuai permintaan konsumen.
Jenis model bisnis
ini bisa diterapkan pada bisnis online maupun offline. Contoh bisnis online
yang menggunakan Nickel and Dime adalah Salesforce, perusahaan
pembuat software CRM.

Meskipun konsumen
bisa menggunakan software Salesforce dengan baik, untuk
menunjang pekerjaan diperlukan beberapa integrasi dengan aplikasi pihak ketiga
lainnya.
Anda bisa saja
menerapkan model bisnis ini pada bisnis kuliner. Misalnya, Anda berjualan nasi
goreng standar. Lalu, Anda bisa menawarkan berbagai topping seperti sosis atau
bakso untuk menu tersebut dengan harga tersendiri.
Model
Bisnis Berdasarkan Interaksi dengan Konsumen
Berikut ini
beberapa jenis model bisnis terkait dengan interaksinya dengan konsumen:
1.
High Touch
Jenis model bisnis
ini memerlukan banyak interaksi dengan konsumen dalam aktivitasnya. Artinya,
ketika menjalankan bisnis ini, resource sumber daya manusia yang diperlukan
cukup besar. Bahkan, peran sumber daya manusia cukup besar dalam membuat bisnis
berkembang untuk jangka panjang.
Contoh dari model
bisnis ini adalah salon kecantikan dan jasa konsultasi.

Untuk dapat
membangun bisnis high touch dengan baik, pastikan Anda memiliki sumber daya
manusia yang berkualitas agar mampu memberikan hasil terbaik. Dengan demikian,
akan membuat konsumen puas sehingga kepercayaan terhadap bisnis bisa dibangun
dengan baik.
2.
Low Touch
Berbeda dengan high
touch, low touch justru mengembangkan model bisnis yang tidak begitu banyak membutuhkan
interaksi dengan konsumen. Artinya, baik dalam tahapan penjualan maupun
penggunaan produk, bisa dilakukan sendiri oleh konsumen. Hal ini dilakukan
dengan berbagai pendekatan otomasi menggunakan kecanggihan teknologi.
Salah satu contoh
bisnis yang menggunakan pendekatan ini adalah Survey Monkey,
penyedia platform survey online.

Dengan platform
yang intuitif, tidak terlalu sulit bagi konsumen untuk membuat sendiri
survey sesuai yang mereka perlukan. Layanan ini bersifat freemium dengan batasan
jumlah pertanyaan dan response.
Namun, untuk
kebutuhan tingkat lanjut, konsumen cukup menggunakan paket premium dengan
jumlah pertanyaan dan response unlimited serta fitur tambahan seperti A/B
testing.
Model
Bisnis Berdasarkan Strategi Produk
Berikut ini adalah
beberapa model bisnis yang menggunakan strategi produk:
1.
Blue Ocean Strategy
Blue Ocean adalah
model bisnis yang menciptakan produk baru dengan pendekatan market berbeda.
Tujuannya, menghindari persaingan yang tajam dan merangsang hadirnya “pasar
baru” dengan biaya pemasaran yang rendah.

Contoh dari model
bisnis ini adalah Nintendo Wii. Alih-alih berkompetisi dengan
Microsoft Xbox dan Sony Playstation, Nintendo membuat Wii untuk pangsa pasar
non-gamers. Artinya, produk ini memang diciptakan untuk pengguna casual yang
lebih mementingkan keseruan bermain game daripada pencapaian level layaknya
game enthusiast.
2.
Renting Business
Model bisnis ini
sebenarnya tidak asing bagi Anda. Namun, Anda tentu baru menyadari bahwa bisnis
rental bisa digunakan untuk lingkup jenis bisnis yang lebih luas. Tidak hanya
berupa barang tapi juga jasa. Dan, tidak hanya secara offline tapi juga
online.

Salah satu platform
yang menggunakan renting business adalah Spotify, layanan musik
streaming. Alih-alih membeli musik secara langsung baik melalui CD maupun
streaming, Spotify memungkinkan Anda mendengar banyak koleksi lagu
dengan sistem berlangganan.
3.
Peer-to-Peer
Model bisnis peer
to peer didasari pada sebuah kemitraan menggunakan platform tertentu yang
mempertemukan supply dan demand. Artinya, kebutuhan konsumen dipenuhi oleh
pihak lain dengan menggunakan pihak ketiga.

Salah satu contoh
bisnis peer to peer adalah Gojek dan AirBnb. Pada
dasarnya, Gojek tidak memiliki armada transportasi yang digunakan dan hotel
yang dimuat di website AirBnb bukanlah milik platform tersebut. Keduanya hanya
menyediakan platform yang memfasilitasi pemenuhan kebutuhan konsumen dan
memperoleh penghasilan dari komisi per transaksi yang terjadi.
4.
Social Entrepreneurship
Jenis model bisnis
ini sering disebut juga sebagai one-for-one. Artinya, bisnis tersebut akan
menyumbangkan satu produk ke orang yang membutuhkan atas setiap satu penjualan
produk yang berhasil.
Model bisnis ini
memadukan pendekatan bisnis yang bersifat profit dan nonprofit sekaligus. Jadi,
mendapatkan laba sambil membangun kesadaran sosial untuk berbagi. Contoh dari
bisnis ini adalah Toms Shoes.

Strategi mereka
untuk menyumbang sepatu kepada anak yang membutuhkan dari penjualan produk,
membuat konsumen tak segan untuk ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Tak
jarang, banyak yang menjadi pelanggan setia.
Model
Bisnis Berdasarkan Kemitraannya
Inilah berbagai
model bisnis dikelompokkan berdasar kemitraan yang dilakukan:
1.
Business to Business (B2B)
Sesuai namanya, B2B
adalah model bisnis yang dibangun dengan kemitraan dengan pebisnis lain.
Artinya, transaksi pembelian dilakukan antar pebisnis, baik perusahaan
manufaktur dengan distributor, atau distributor dengan retailer.
Salah satu contoh
bisnis B2B adalah antara Samsung dan Apple.
Meskipun sama-sama bergerak di bisnis gadget, Samsung banyak menjual berbagai
produk yang digunakan Apple untuk membuat iPhone.
2.
Business to Consumer (B2C)
Di dalam model
bisnis B2C, pebisnis menjual produk mereka kepada konsumen akhir. Contoh yang
paling sering kita temui adalah bisnis kuliner, di mana penjual langsung
menjual produk kepada konsumennya.
Pada
perkembangannya, B2C menjangkau lebih banyak jenis bisnis dan dapat dilakukan
secara online, terutama dengan banyaknya toko online yang menjual berbagai
kebutuhan konsumen.
3.
Consumer to Business (C2B)
Sebaliknya, model
bisnis C2B memungkinkan konsumen untuk menjual produk kepada pebisnis. Tentu
saja yang dimaksud tidak hanya berupa barang atau jasa tapi bisa berupa data,
partisipasi dan bantuan promosi.
Salah satu
contohnya adalah penjualan produk digital melalui situs microstock. Di mana
pemilik foto bisa mengunggah hasil karyanya untuk dijual melalui situs
seperti istockphoto dan lainnya.
Tidak hanya itu,
C2B juga bisa ditemui pada saat pengguna internet melakukan survey berbayar
yang dilakukan oleh sebuah situs survey online.
4.
Consumer to Consumer (C2C)
Model bisnis C2C
menciptakan transaksi penjualan produk dari satu konsumen ke konsumen lainnya.
Biasanya hal ini dilakukan dalam sebuah platform khusus yang digunakan bersama.
Salah satu contoh
C2C adalah jual beli online yang dilakukan menggunakan website/aplikasi OLX.
Penjual memasang foto produk di platform untuk menarik pembeli dan semua
transaksi bisa dilakukan tanpa melibatkan pihak ketiga.
Model
Bisnis Lainnya
1.
MLM (Multi Level Marketing)
Model bisnis ini
memanfaatkan jaringan konsumen untuk menjual produk. Laba yang dihasilkan
berasal dari sistem komisi yang diterapkan platform yang diikuti.
Menggunakan
struktur piramida jaringan, Anda akan mendapatkan pendapatan saat berhasil
menjual produk dan saat downline Anda juga berhasil menjual produk.Downline
adalah orang berhasil Anda rekrut untuk sama-sama menjual produk.
Sebagian besar
bisnis MLM dilakukan dengan sistem penjualan langsung ke konsumen. Salah satu
contoh bisnis yang menggunakannya adalah Amway.
2.
Crowdsourcing
Crowdsourcing
adalah sebuah model bisnis yang menggunakan partisipasi banyak pengguna
internet (crowd) untuk menghasilkan produk yang dapat dijual kembali. Biasanya,
pebisnis membayar jasa dari peserta crowdsourcing atas sebuah pekerjaan
sederhana yang dilakukan dalam jumlah banyak.

Salah satu
perusahaan yang menggunakan model crowdsourcing dalam bisnis adalah 2Captcha.
Bisnis ini menyediakan layanan keamanan online captcha bagi berbagai perusahaan
yang membutuhkan verifikasi manusia (human verification).
3.
Agency
Agency adalah
sebuah model bisnis yang menyediakan jasa pengerjaan sebuah proyek khusus untuk
jangka waktu tertentu. Kekuatan dari jenis model ini adalah keahlian dan
pengalaman atas satu jenis pekerjaan.
Berbeda dengan
bisnis jasa lain, pekerjaan yang dilakukan oleh bisnis agency bersifat khusus
per klien. Biasanya perusahaan menggunakan jasa agency untuk menyelesaikan
pekerjaan pendukung yang tidak dapat dikerjakan sendiri.

Jenis pekerjaan
yang membutuhkan jasa agency antara lain: pembuatan website, content marketing,
advertising, dan lainnya. Contoh perusahaan agency adakah Brafton dan Chubby
Rawit.
Manfaat
Model Bisnis
Setelah mengetahui
berbagai jenis model bisnis yang bisa Anda gunakan, Anda pasti sudah memahami
berbagai manfaat menggunakannya.
1.
Mengetahui Target Pasar bagi Penjualan Produk
Model bisnis
menuntun Anda untuk menentukan value proposition. Komponen ini akan membantu
Anda mengetahui bagaimana produk Anda dapat menjadi solusi bagi permasalahan
pelanggan.
Selanjutnya, Anda
bisa melakukan segmentasi pelanggan yang lebih spesifik. Semakin jelas model
bisnis Anda, semakin mudah mengetahui target pasar yang harus dituju.
2.
Memahami Produk yang Harus Diciptakan
Dengan menggunakan
model bisnis yang jelas, Anda tak perlu lagi terjebak pada penciptaan produk
yang tidak diperlukan konsumen. Hal tersebut tentu tidak memberikan manfaat
bagi perkembangan bisnis Anda.
Selain itu, semakin
jelas target pasar dan value proposition produk Anda, semakin jelas jenis
produk apa yang harus dihasilkan.
3.
Mengetahui Strategi Bisnis yang Harus Dijalankan
Model bisnis yang
Anda pilih akan secara otomatis turut menentukan strategi bisnis yang harus
dijalankan.
Misalnya, jika Anda
seorang distributor, maka strategi Anda bukanlah cara menarik konsumen. Namun,
cara menjalin hubungan ke lebih banyak produsen secara dekat.
Selain itu, Anda
harus mampu bekerja sama dengan banyak retailer dan mampu menciptakan jalur
distribusi yang cepat dan efektif.
4.
Mengantisipasi Persaingan
Tanpa menggunakan
model bisnis, akan sulit menentukan posisi bisnis Anda di pasar. Hasilnya, bisa
saja Anda harus menghadapi persaingan yang belum Anda perhitungkan.
Dengan menggunakan
model bisnis, Anda juga mampu memahami persaingan Anda dalam mendapatkan
resources dan menjual produk ke konsumen. Hal ini sangat penting untuk bisa
menentukan strategi bisnis yang tepat berdasar model yang dipilih.
sumber : https://www.niagahoster.co.id/blog/model-bisnis/




Komentar
Posting Komentar